Kamis, Agustus 02, 2018

2007-2018

Potret kehidupanku sedikit banyak ter-capture lewat penaku disini. Sejenak aku merenung, wow, bukan waktu yang sedikit ya, aku sudah melewati banyak hal. But, time fly so fast...
Itulah kenapa dalam Alquran Allah bersumpah atas nama waktu lebih dari satu kali, saking kita sering lupa akan waktu... Ya Allah...

Teringat kata-kata yang aku baca di instagram tadi pagi, "Pada hakikatnya kita semua adalah penulis, penulis catatan amalan kita sendiri " degg..... benar sekali.
waktu yang kita pakai untuk maksiat kepada Allah tidak akan terulang, begitupun kesempatan kita untuk beramal kepada Allah tidak akan terulang.
berusahalah jadi orang yang paling baik versimu setiap detiknya. Allah Maha Luas kasih sayangNya, tidak akan terlambat kalau kau mau bertaubat.
Semangat!!!!

Selasa, Juli 31, 2018

Menjemput Jodoh 2



Bismillah

Entah kenapa, pengen membahas tentang JODOH lagi..
teringat akan jodohku, jadi pengen cerita tentang jodoh lagi.

suatu hari, aku berdiskusi dengan suami. "Yang, kalau kamu gak milih ST*N waktu itu, dan memilih IT*, mungkin kita gak akan berjodoh?"candaku .
"siapa bilang? bagaimanapun caranya, kalau kita memang jodoh pasti Allah punya cara. "jawab suami. makjleb..

Memang ya, setiap kita sudah punya jodohnya masing-masing tinggal bagaimana kita menjemputnya, apakah dengan cara yang Halal atau yang Haram?

Flashback.
aku dan suami satu kampus di Cimahi 2005, tapi tidak satu kelas. pendidikan D1 membuat kami hanya belajar selama 1 tahun di kampus (Balai Diklat tepatnya). praktis, aku sama suami hanya bertemu selama 1 tahun, itupun hanya beberapa waktu aja, soalnya jadwal kita kan ga mesti sama setiap harinya. ketika takdir Allah mempertemukan kami di pelaminan, rasanya kami harus mengingat-ingat momen apa ya yang bisa kita kenang bersama? hehe....
setelah lulus, kami tidak pernah melakukan kontak sama sekali. berpetualanglah aku dan dia sendiri-sendiri, dalam list kemungkinan menjadi jodohku pun tak pernah muncul nama dia. sampai akhirnya aku lulus kuliah (lagi) dan balik ke kantor, terus ditugaskan ke Cibinong, disitulah awal mula kami berkomunikasi lagi dan mengucap ijab kabul 3 bulan kemudian.

Begitulah skenario Allah.
Setiap pasangan pasti berbeda-beda ceritanya, dan semua pasti atas izin Allah.
So, bagi yang belum mendapat jodoh, semangat menjemput jodoh ya... ^^

Selasa, Maret 13, 2018

Renungan hari ini.

Bismillah...
Walhamdulillah...
Ujian-ujian dalam hidup, itu adalah suatu keniscayaan. Tidak ada yang hidup di dunia ini yang tidak ada masalah. tidak ada ujian... TIDAK ADA.
Semua mengalami masalah.
Dalam suatu masa dalam kehidupan kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan. Jika kita mengikuti pilihan pertama maka kita akan mendapatkan bla bla bla, namun mempunyai resiko ini dan itu.
begitu pula dengan pilihan lain. pasti ada plus minusnya. Maka, timbanglah...mana resiko yang paling sedikit diantara keduanya. atau, timbanglah kebaikan yang paling besar diantara keduanya.

Hidup untuk ibadah, kerja sebagai sarana ibadah, mengurus keluarga juga ibadah. jangan takut dengan semua pilihanmu... InsyaAllah semua bernilai ibadah buatmu..
Ingatkan diri bahwa Rizki itu bukan datang dari pekerjaan kita, namun dari Allah yang berjalan lurus dengan usaha kita selama ini.

Selasa, Februari 27, 2018

Oh dasterku (bagian 2)

Lupa.... Penyakit manusia ya itu... Ternyata aku masih punya PR terkait ceritaku sebelumnya tentabg daster. Tahu ga kenapa aku bikin bersambung? Ini karena aku sedih banget. Karena entah itu masalah jaringan, tulisan panjangku mengulas tentang ini tiba-tiba raib, pas aku mau posting. Hufff... Jadinya pas mau di ceritain lagi, ga seasyik bahasaku sebelumnya. Jadinya aku buat bersambung, takutnya hilang lagi tulisanku.

Okey cerita dulu ya awal mula ingin posting ttg daster (penting ga penting yang penting cerita, yes)
jadi, suatu waktu pas buka FB, nemulah di wall tentang komunitas atau mungkin lebih ke jajak pendapat seh dari mamah-mamah muda tentang pro kontra pemakaian daster. Sebenarnya sah-sah saja semua orang bisa memilih baju apa yang akan dia pakai, cm ketika ini sudah jadi bahan diskusi di FB, kan si aku jadi bertanya, sebenarnya kenapa seh kalau kita pakai daster di rumah? 
Aku coba baca sekilas pendapat mamah-mamah yang non/anti daster di rumah itu, mereka kebanyakan sudah membuang/mengganti pakaian daster nya dan menggunakan pakaian yang "lebih menarik" di rumah. Bertebaranlah link-link OL shop mana yang menjual pakaian yang nyaman buat di rumah dan yang "lebih menarik" itu. Salah satunya saya coba klik. Dan hasilnya... Bajunya mahal-mahal ya ternyata... Hihi... Dan belum tentu pantas aku pakai. 
Jadi, ketika membaca postingan itu,pada awalnya aku tertarik dan cenderung mau bergabung dengan emak-emak anti daster di rumah, tetapi bagaimana nasib baju dasterku? Dikasi orang? Bisa seh... Sebanyak itu?hmmm... Mikir lagi. 
Lalu, anggaran buat mengganti dasterku berapa ya? Apa tidak menjadi pemborosan? 
Hmm... Mikir lagi..
Pada intinya, kembali ke masing-masing orang ya, mau pilih yang mana.
Yang pasti, ibu-ibu berdaster pun bisa tetap tampil menarik di rumah, tinggal kitanya yang kreatif kan. Juga, bagi ibu2 yang mau tidak berdasterpun itu baik. Karena itu mungkin sesuai dengannya dan keluarganya.
Demikian. Ini cuma pendapat pribadi ya... Selesai...

Jurnal PR

Yeay.... 
Punya semangat baru neh Bun. Resolusi 2018, alhamdulillah satu persatu dirintis dengan baik. Aku mulai membuat jurnal PR sendiri buat anakku, yang tahunbini mau masuk SD. Hari ini baru mau percobaan seh, mudah-mudahan berhasil ya. Anakku juga bisa enjoy. Dan yang pasti, ga kaget pas masuk SD nanti. 
Setelah aku coba searching terkait buku SD kelas 1, mulailah dengan konsep diriku sendiri. 
Membaca terus menulis ; mengenal bentuk dan menyebutkan benda-benda sekitar ; menulis angka ; menulis hijaiyah ; dan menghitung sederhana. 
Ah, sudah tak sabar pengen tahu reaksi kaka saat menerima jurnal PR nya... :)